Murid Durhaka,sebuah penyesalan

Pada saat saya duduk di bangku kelas 2 SMP,saya diberi ilmu bahasa inggris oleh (Almarhum) Bu Attin.Beliau dipanggil oleh sang pencipta saat beliau akan melahirkan buah hatinya hasil pernikahan almarhum dengan suaminya yang seorang guru pelajaran komputer.

Saat saya duduk di kelas 2 SMP,kemampuan bahasa inggris saya jauh berbeda dengan sekarang ini.Saya selalu enjoy bila sedang belajar bahasa inggris di kelas.Suatu saat saya dan teman sekelas ujian.Saya masih ingat kala itu model ujiannya adalah soal multiple choice dan mengubah kalimat yang salah.Lalu seorang teman saya meminta jawaban ujian kepada saya,lalu  saya berikan jawaban multiple choice saya ke seorang teman saya itu.Dapatlah saya nilai 90 dan teman saya tadi 70.

Mungkin beliau melihat track record hasil ujian siswa-siswanya,sehingga beliau memanggil saya dan teman saya tersebut ke ruang guru.Lalu teman saya diuji lagi dengan soal yang sama dan teman saya tidak bisa menjawab dengan benar.Ketahuanlah kami bekerja sama saat ujian yang lalu.Beliau memberi keringanan bagi kami,maka kami diberi kesempatan mengikuti remedial.Lalu saya sebagai pihak yang salah tentu menyetujui hukuman yang diberikan oleh Alm. Bu Attin.

Esoknya keputusan pemberian remedial itu diubah oleh Alm. Bu Attin.Setelah beliau berbincang dengan guru-guru yang lain,kami diberi keputusan yang mencenangkan.Atas perbuatan kami,kami mendapat nilai 0! Tentu saja keputusan itu tidak saya terima.Saya berada di pihak yang memberikan jawaban,bukan meminta jawaban! Menurut saya,saya hanya korban,bukan tersangka! Nilai 0 tentu saja akan membuat rata-rata nilai bahasa inggris saya tidak mencapai SKBM (Standar Ketuntasan Belajar Minimum) sehingga akan ada 1 nilai merah di rapor saya nantinya. Dengan alasan itu saya terus memohon-mohon kepada beliau di kala bertemu dengan beliau agar mendapat keringanan,namun beliau tidak mengampuni saya.Bahkan saat masa ujian perbaikan (hanya diberi satu minggu oleh pihak sekolah) saya terus mengejar-ngejar beliau namun beliau tidak mengubah keputusannya.Namun saya tidak menyerah,saya lapor kepada Wali kelas saya,Bu Yudha,agar masalah saya dapat dibantu.Lalu Bu Yudha membawa saya dan teman saya ke Wakasek akademik.Menurut Wakasek akademik,tidak ada nilai 0 di rapor,semua nilai terburuk akan diganjar nilai 51.Mendapat pencerahan ini tentu saya sangat bersyukur.Cukup dengan nilai 51 itu maka rata-rata saya sudah melampaui SKBM Bahasa Inggris (70).Permasalahan ini sangat tertutup.Bahkan sampai sekarang Orang tua saya pun tidak tau akan masalah ini.

Sejak kejadian itu saya selalu dendam dan marah kepada Bu Attin sampai saya berada di bangku SMA.Bahkan saya tidak begitu terpukul begitu mendengar kabar beliau menghembuskan nafas terakhirnya.Saya sampai tidak ikut melayat.

Sungguh sikap murid yang durhaka! Mungkin keadaanku saat ini adalah balasan Allah kepadaku akan sikapku yang durhaka! Saya tidak pernah berpikir sebelumnya,seandainya Bu Attin itu adalah Ibu saya sendiri lalu dibenci oleh orang lain,saya pasti tidak terima dengan sikap orang lain tersebut! Kini sudah terlambat saya mengucapkan maaf secara langsung kepada beliau.Melalui tulisan singkat ini, saya menyatakan sangat menyesal akan sikap saya terhadap beliau.Sungguh saya sangat berterima kasih atas jasa beliau yang telah bekerja keras mendidik murid-muridnya.

Semoga Almarhum Bu Attin selalu berada disamping Allah dan segala amal ibadahnya diterima.Aamiin. 

Semoga kisah nyata ini menjadi pelajaran bagi teman-teman semua