Prosedur Motor Solo Run

Motor Solo Run adalah pengujian motor induksi dalam keadaan no load atau tanpa beban. Motor induksi pada suatu pabrik biasanya dicouple dengan beban seperti pompa, conveyor, fan, compressor, dsb. Sebelum motor digunakan untuk beban-beban tersebut, motor perlu diuji kinerjanya dengan melepas couple beban motor tersebut. Kegiatan Motor Solo Run wajib dilakukan pada saat precommissioning suatu pabrik baru dan pada saat motor setelah dilakukan maintenance berkala seperti penggantian lilitan rotor dan pengecatan ulang.

Tujuan dari Motor Solo Run adalah untuk mengetahui kondisi kinerja motor sebelum dicouple dengan bebannya. Parameter yang dilihat dari sisi mechanical adalah vibration (getaran), kecepatan (rpm), dan temperature (suhu), atau bahkan berserta noise (suara). Sedangkan pada sisi electrical adalah arus starting dan arus normal motor keadaan no load, dan beberapa motor menggunakan RTD sehingga dapat dilhat suhunya terutama pada bearing motor. Motor solo run biasanya dilakukan selama kurang lebih 2 jam dan secara berkala dilakukan pengukuran parameter-parameter yang telah disebutkan baik di sisi lapangan maupun dari switchgear/substation.

Beberapa hal ini perlu disiapkan sebelum melakukan motor solo run, yaitu:

  1. Cek Mechanical Data Sheet

memastikan data-data motor tersedia secara lengkap adalah suatu kewajiban. Perhatikan selalu GA Drawing motor dan data-data terkait parameter motor. Motor setelah proses fabrikasi tentu sudah dilakukan serangkaian pengujian di pabrik vendor motor bersangkutan. Data-data tersebut menjadi acuan dan batas bila pada saat motor solo run terjadi nilai-nilai yang melebihi parameter sehingga dapat dilakukan tindakan secara cepat dan gesit. Setelah Data tersebut berada di tangan, mintalah mechanical team untuk melakukan serangkaian pengukuran dan prosedur sebelum solo run seperti proses uncople, thightening, dan sebagainya. Rapikan dokumen-dokumen tersebut dalam satu map yang dapat dibaca dengan mudah dan nyaman di lapangan.

  1. Setting Proteksi Motor dan Feeder

Setelah studi power system analysist dilakukan, didapatkan setting rele proteksi untuk seluruh feeder dan motor. Mintalah vendor switchgear atau operator/engineer yang memumpuni untuk menginput data tersebut ke rele proteksi. Selain proteksi, kita perlu banget mengecek LCS dan start/stop test pada drawer motor controller sebelum kondisi di rack-in. Apabila terjadi kendala pada pengetesan ini anda perlu melakukan troubleshooting dengan membaca gambar schematic drawer motor controller dan cek apakah wiring drawer dan komponennya telah sesuai dengan schematic.

  1. Cek Torsi kabel

Perhatikan secara teliti (bukan hanya dengan kasat mata) torsi pada sisi panel/switchgear dan pada sisi motor di lapangan. Pastikan baut yang digunakan ukuran dan bahannya sesuai standar dari vendor. Kencangkan Baut sesuai standard torsi yang ditetapkan oleh vendor, beda vendor beda pula standard torsinya dan pastikan menggunakan kunci torsi bukan kunci pas biasa. Pada sisi motor, lakukan hal serupa. Cek Fase kabel telah terpasang sesuai dengan tag di panel maupun motor agar saat dinyalakan, arah putar motor tidak terbalik. Pengukuran dan pengecekan kabel juga sangat penting (megger, hipot test, dan continuity kabel). Siapkan hasil pengukuran tersebut dalam dokumen yang sama pada dokumen data sheet motor. Pastikan kabel gland telah dipasang dan telah di-heat shrink agar air tidak masuk ke terminal box. Jangan lupa perhatikan kabel grounding motor harus sudah terpasang. Jika ada punchlist dari owner/client sebaiknya diselesaikan terlebih dahulu agar motor solo run dapat diselesaikan dengan tentram dan damai tanpa adanya gejala short circuit.

  1. Alat ukur dan lembar pengamatan

Bawalah alat ukur vibration, Temperature, dan Rpm meter di lapangan. Pastikan alat tersebut telah memiliki sertifikat kalibrasi QC passed dari pabrikan. Semakin bagus alatnya maka insyaallah semakin baik pula hasil pengukurannya. Jangan lupa persiapkan perlatan kunci pas dan obeng yang lengkap untuk jaga-jaga. Jangan Lupa siapkan barricade dan Alat pemadam kebakaran di sisi motor maupun switchgear/substation.

11270161_10204525311236200_1331333308552026388_n.jpg
Vibration Meter

  1. Koordinasi antar disiplin yang bersangkutan

Vokalis ganteng dan suaranya bagus saja perlu anggota band yang kompak agar menghasilkan konser musik yang enak didengar dan dilihat, seperti itulah kita dalam akan melakukan koordinasi pelaksanaan motor solo run. Duduk dalam satu meja sambil minum kopi perlu dilakukan dan yang terpenting membahas persiapan Motor Solo Run. Electrical dan Mechanical serta HSE perlu membahas persiapan motor solo run dengan serius. Pastikan kita semua berada dalam frekuensi yang sama. Segala kendala dari masing-masing disiplin dibahas dan diselesaikan dengan segera. Pastikan pasokan Power untuk menyalakan motor harus terpenuhi dan continue selama pekerjaan motor solo run berlangsung dan motor telah diberi grace yang cukup.

  1. Work Permit

Jika semua telah dipersiapkan, jangan lupa untuk menyiapkan dokumen yang paling penting ini, yaitu work permit dan Job Safety Analysist. Pastikan orang-orang yang berkepentingan telah mengetahui secara detail jadwal motor solo run. Untuk Motor Critical yang menggunakan VSD atau soft starter (biasanya MV motor) wajib hukumnya mendatangkan vendor motor atau mechanical package yang bersangkutan agar prosedur motor solo run dapat dilaksanakan dengan teratur.

Saran:

Pastikan Drawer di switchgear/panel dalam keadaan bersih dengan melakukan proses cleaning. Debu dan kabel yang tidak teratur dapat menyebabkan gangguan yang tidak diinginkan, begitu juga kondisi di lapangan, biasanya motor telah berdebu karena telah lama dipasang dan dibiarkan, oleh karena itu akan sangat baik bila motor di lapangan diberi terpal agar terhindar dari karat.

Sebelum melakukan solo run ada baiknya dilakukan lagi pengecekan drawer dan torsi dan megger kabel sebagai jaga-jaga. 

#UrunRembukProyek

Veby Enandes Stalony
Electrical Engineer
PT. Rekayasa Industri
Pupuk Indonesia Holding Company